Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 September 2012

Keutamaan Menangis Karena Allah

 Allah berfirman dalam surat At-Taubah:
فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.”(QS. at-Taubah: 82).

Selayaknya manusia, terkadang merasa perlu dan harus menitikkan air mata. Bisa karena rasa takut, penyesalan atau kesedihan karena kehilangan sesuatu yang dicintai atau sesuatu yang berharga. Adanya tangisan adalah bagian dari fitrah yang dilimpahkan Allah kepada setiap insan. Ketika Nabi Yaqub as. mendapat kabar (bohong) dari putra-putranya bahwa Yusuf as. dimangsa serigala Beliau menangis hingga kedua matanya menjadi buta.

“Dan Ya`qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).”(QS. Yusuf: 84).

Akan tetapi janganlah asal menangis. Apalagi menangisi sesuatu yang tidak layak untuk ditangisi. Insan sedunia – termasuk sebagian umat Islam – pernah menangisi kematian Lady Diana. Padahal saat itu dia tewas ketika sedang berkencan dengan pacarnya. Dunia juga pernah menangisi kematian Michael Jackson yang dijuluki King of Pop. Tapi sedikit kaum muslimin yang menangisi pembantaian saudara-saudara mereka di Irak, Afghanistan, Palestina, dsb.

Jangan meneteskan air mata untuk sesuatu yang percuma. Tapi jatuhkanlah air mata untuk sesuatu yang mendatangkan kemuliaan bagi kita. Oleh karenanya, menangislah untuk sesuatu yang tepat, yang mengundang ridlo dari Allah Ta’ala. Jangan untuk sesuatu yang sia-sia apalagi mendatangkan murkaNya.

Umat Islam adalah umat yang serius dan menyedikitkan canda tawa. Kesenangan di dunia bisa berganti menjadi penderitaan abadi kelak di Hari Akhir.  Anas bin Malik ra. pernah bersaksi, “Pada suatu hari Rasulullah saw. berkhutbah, belum pernah saya mendengar khutbah seperti itu, lalu beliau bersabda dalam khutbahnya;
لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
“Seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Lalu Anas melanjutkan bahwa para sahabat menutup mukanya sambil menangis terisak-isak. (HR. Muttafaq alayh).

Ada beberapa hal yang dalam pandangan Islam, seorang muslim layak untuk mencucurkan air mata.
1.       Ketika membaca dan mendengarkan al-Quran dan memuji Allah SWT. Firman Allah:

قُلْ ءَامِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا﴿107﴾وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا﴿108﴾وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا﴿109﴾
“Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu`.”(QS. al-Isra: 107-109).

2.       Mengingat dosa dan takut kepada Allah SWT. Sabda Nabi saw.:

لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ
“Tidak akan tersentuh api neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah sampai ada susu yang kembali masuk ke dalam payudara.”(HR. Tirmidzi).

Seorang muslim harus merasa menyesal saat telah berbuat dosa. Tidak pandang apakah itu dosa besar ataukah kecil. Ibnu Abbas ra. berkata, “Siapa yang tertawa saat berbuat maksiat, maka akan bercucuran tangis di neraka.”

3.       Saat mendapat musibah, seperti kematian orang yang dikasihi. Imam Muslim meriwayatkan bahwa suatu ketika salah seorang putra Rasulullah saw. sakit keras. Kemudian beliau memangkunya sedangkan nafas anak itu telah tersengal-sengal. Maka jatuhlah air mata Rasulullah saw. membasahi pipi. Sahabat beliau, Sa’ad bin Ubadah ra. yang menyaksikan hal itu bertanya, “Apakah air mata ini (mengapakah engkau menangis sedang engkau melarang meratap)?” Rasulullah saw. menjawab, “Air mata itu bukti rahmat yang telah diletakkan Allah dalam hati hambaNya. Sesungguhnya Allah akan mengasihi hamba-hambaNya yang berkasih sayang pada sesamanya.”

4.       Saat melewati kuburan orang zalim dan memasuki daerah yang dibinasakan Allah dengan azabNya. Ibnu Umar ra. berkata; ketika perjalanan Rasulullah saw. dengan para sahabatnya tiba di daerah kaum Tsamud maka Rasulullah saw. bersabda:

لَا تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلَاءِ الْمُعَذَّبِينَ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ لَا يُصِيبُكُمْ مَا أَصَابَهُمْ
“Janganlah kamu masuk ke daerah yang diazab ini kecuali jika kamu menangis, kalau kamu tidak dapat menangis lebih baik jangan masuk ke daerah mereka, jangan sampai kamu terkena apa yang menimpa mereka.”(Muttafaq alayh).

Demikianlah sebagian dari menangis yang dianjurkan agama. Jadikanlah air mata yang keluar dari mata kita mengandung pahala di sisi Allah SWT. bukan sekedar air mata yang tidak berguna.
Baca Selengkapnya »»  

Senin, 03 September 2012

Ketaatan Yang Keliru

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar".”(QS. al-Ahzab: 66-68).

Di antara tanda kekuasaan Allah SWT. adalah mengabarkan kepada kita berbagai peristiwa gaib dan yang akan terjadi. Salah satunya dalam ayat-ayat di atas Allah Ta’ala menceritakan siksaan dan penyesalan para penghuni neraka diakibatkan sikap mereka di dunia yang membangkang dari perintah Allah dan RasulNya dan lebih menaati para pemimpin mereka. Mereka akhirnya tersesat karena memang para pemimpin mereka telah mengarahkan mereka ke jalan yang sesat, menyimpang dari jalan Allah SWT. dan RasulNya.
Seringkali kita mendengar dan menyaksikan orang yang menyepelekan persoalan taat kepada Allah, dan lebih memberatkan patuh kepada para pemimpin mereka. Dengan ringannya mereka manutr saja ketika pemimpinnya memilih yang haram, melegalkan kemaksiatan, bersekutu dengan kaum kafir yang jelas-jelas merendahkan martabat kaum muslimin, dengan berbagai dalih. Yang paling sering adalah ‘wajib taat pada pemimpin’.
Orang-orang seperti ini lebih mendengar dan menyambut ajakan para pemimpin mereka. Ada di antara mereka yang sebenarnya tahu bahwa ajakan tersebut menyesatkan, tapi ada juga yang sama sekali awam tapi karena terpesona dengan karisma dan janji para pemimpinnya. Untuk akhirnya mereka dijerumuskan ke dalam kesengsaraan dunia dan akhirat.
Mereka mengabaikan pesan Nabi SAW. bahwa pemimpin ada tiga jenis; dua di neraka, dan hanya satu yang masuk surga.
الْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ قَاضِيَانِ فِي النَّارِ وَقَاضٍ فِي الْجَنَّةِ قَاضٍ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَيَعْلَمُ ذَلِكَ فِي النَّارِ وَقَاضٍ قَضَى وَهُوَ لَا يَعْلَمُ فَأَهْلَكَ حُقُوقَ النَّاسِ فَذَلِكَ فِي النَّارِ وَقَاضٍ قَضَى بِالْحَقِّ فَذَلِكَ فِي الْجَنَّةِ

“Hakim itu ada tiga; dua di antaranya di neraka dan yang satu akan masuk surga. Maka, seseorang yang mengetahui kebenaran, kemudian memutuskan perkara dengan yang sebaliknya, maka dia di neraka. Seseorang yang memutuskan perkara di kalangan manusia dengan kebodohannya, maka dia di neraka. Dan seseorang yang mengetahui kebenaran dan memutuskan perkara dengan kebenaran tadi, maka dialah satu-satunya hakim yang di surga.”(HR. Ahli Sunan).
Ada juga sebagian kaum muslimin lebih memilih wala’ wal bara’ –loyalitas dan kesetiaan kepada orang-orang yang jelas-jelas memerangi dan membunuhi kaum muslimin. Melayani mereka dengan sekuat tenaga, seolah-olah para pemimpin itu adalah ‘tuhan’ mereka yang akan menyiapkan surga baginya.
Mereka juga tidak kalah sengitnya melecehkan kaum muslimin yang memberikan ketaatan pada Allah. Memberikan sebutan-sebutan buruk, mempersulit kehidupan mereka, bahkan tidak segan-segan memerangi kaum muslimin yang tengah menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.
Pada akhirnya, penyesalan akan menyergap mereka yang salah memberikan ketaatan. Pada saat wajah mereka dibolak-balikkan dibakar di dalam panasnya api neraka. Mereka meratapi kesalahan dan mendoakan keburukan dan kutukan bagi para pemimpin yang telah menyesatkan mereka dari jalan Allah dan RasulNya.
رَبَّنَا ءَاتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا
“Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar".”(QS. al-Ahzab: 68).
Baca Selengkapnya »»  

Rabu, 29 Agustus 2012

Kondisi Umat Hari Ini Menurut Rasulullah SAW

Semata dengan pertolongan Allah SWT., umat manusia bisa terlepas dari masa jahiliyah. Zaman di mana akal sehat dikalahkan oleh hawa nafsu, dan para pemimpinnya adalah orang-orang yang memuaskan syahwat duniawi, dan memimpin dengan kebodohan.

Dengan datangnya Islam maka jaman itu terhapus. Hawa nafsu ditundukkan pada syariat Allah, dan fungsi akal sebagai berkah dari Allah kembali digunakan untuk memahami dien ini dan membangun kemajuan umat manusia.

Akan tetapi kembali dengan izin Allah Ta’ala, Rasulullah saw. mengabarkan kepada kita bahwa akan kembali datang zaman di mana agama Allah dipinggirkan dan orang-orang dengan kebodohannya memuja hawa nafsu.

Dekade itu dimulai dengan terlepasnya tali ikatan Islam dari tubuh umat satu demi satu. Berawal dari lalainya kaum muslimin dalam menjalankan pemerintahan yang amanah dan Islami, dan terakhir adalah mengabaikan kewajiban yang amat sederhana; sholat.

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

“Akan terlepas simpul Islam seutas demi seutas, maka setiap terlepas untaian tersebut maka manusia berpegang pada simpul yang lain, dan yang paling awal terlepas adalah pemerintahan dan yang paling akhir adalah sholat.”(HR. Ahmad).

Dengan runtuhnya khilafah Islamiyyah 89 tahun silam, tepatnya pada tanggal 28 Rajab tahun 1344 H, adalah bencana awal yang menghilangkan institusi negara yang melindungi dan menjaga semua urusan umat Islam. Semenjak itu berbagai masalah bertubi-tubi menghantam, tanpa bisa diselesaikan oleh umat, bahkan masalah yang kecil sekalipun semisal kesehatan. Banyak anak-anak muslim menderita gizi buruk, dan orang-orang miskin yang tidak bisa berobat, tidak terselesaikan. Apalagi masalah penjajahan di dunia Islam seperti Afghanistan, Irak, ataupun masalah pemurtadan oleh kaum salibis.

Hari ini kaum muslimin seperti tidak mengenal fiqih Islam yang mengatur persoalan pemerintahan dan kemasyarakatan. Mereka asing dengan sejarah mereka sendiri. Bahkan Islam dianggap sama dengan agama lain, yang hanya mengurusi masalah privat, tidak mengatur masalah publik.  Ajaran Islam yang dikenal masyarakat hanya berkutat dalam persoalan ibadah dan munakahat semata.

Rasulullah saw. juga mengabarkan bahwa akan langkanya ulama di tengah umat. Padahal ulama adalah pewaris para nabi dan mereka rujukan umat sepeninggal Nabi saw. Kelangkaan ulama otomatis dibarengi dengan merajalelanya kebodohan. Umat akhirnya merujuk kepada para pemimpin mereka yang bodoh, yang mereka itu sesat dan menyesatkan.

98 حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا قَالَ الْفِرَبْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ قَالَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ هِشَامٍ نَحْوَهُ * 

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan menghilangkannya dari manusia, akan tetapi Ia mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama, hingga jika tidak tersisa seorang alim pun maka manusia akan mengangkat orang-orang bodoh, mereka ditanya lalu memberi fatwa dengan tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Bukhari).

Lebih dari itu, Rasulullah saw. kembali mengabarkan bahwa di zaman sepeninggal beliau orang menyaksikan segala sesuatu menjadi kontradiksi; yang haq dipandang batil,  yang batil dipandang haq. Orang-orang yang dusta dibenarkan, dan orang benar didustakan. Sedangkan masyarakat dipimpin oleh orang-orang yang bodoh.

Ibnu Majah meriwayatkan dalam sunannya. Dia berkata: Telah berbicara kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah; telah berbicara kepada kami Yazid bin Harun; telah berbicara kepada kami Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi, dari Ishak bin Abu Furat, dari al-Maqburi, dari Abu Hurairah. Dia berkata: Bersabda Rasulullah SAW:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ. يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ. وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الأَمِينُ. وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ في أَمْرِ الْعَامَّةِ .

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh para penipu. Ketika itu orang yang dusta dibenarkan, dan sebaliknya orang yang benar didustakan; orang yang berkhianat diberi amanat, dan sebaliknya orang yang dapat dipercaya dikhianati. Ketika itu yang berbicara adalah ar-Rawaibidhah.” Beliau ditanya: “Siapa ar-Rawaibidhah itu?” Beliau bersabda: “Ar-Rawaibidhah adalah orang goblok dan tolol yang diserahi untuk mengurusi urusan umat.”

Gambaran yang telah diberikan oleh Nabi saw. adalah kondisi yang kini tengah menerpa kaum muslimin. Kabar ini janganlah disalahpahami  sebagai berita untuk menumbuhkan pesimisme atau fatalisme, sehingga tidak ada semangat perubahan. Akan tetapi Nabi saw. memberikan kabar masa depan ini sebagai pesan kewaspadaan sekaligus memacu spirit umat untuk tetap istiqomah dalam keislaman dan bersemangat untuk melakukan perubahan ke arah jalan yang diridloi Allah Ta’ala.

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Sesungguhnya siapa yang hidup sepeninggalku dari kalian akan menyaksikan perbedaan yang demikian banyak, berhati-hatilah kalian terhadap perkara yang baru (mengada-ada) karena sesungguhnya itu adalah kesesatan, maka siapa saja yang mendapati hal itu di antara kamu wajib atasnya berpegang kepada sunnahku dan sunnah khulafa ar-rasyidin yang telah mendapat petunjuk, gigitlah dengan geraham kalian.”(HR. Tirmidzi).
Baca Selengkapnya »»  

Minggu, 12 Agustus 2012

Siapkah Kita Mati Esok Hari?


قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".”(QS. al-Jumu’ah: 8).

 Dibandingkan yang berpikir untuk cepat mati, jauh lebih banyak orang yang berpikir dan berharap jauh dari kematian. Mereka menginginkan umur yang panjang, bahkan sebagian lagi tidak pernah berpikir tentang kematian. Seolah-olah kematian adalah sesuatu yang tidak akan pernah datang kepada mereka. Mereka ingin melupakan kenyataan bahwa setiap yang berjiwa pasti bakal mati.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” (QS. ali Imran: 185).

Mengapa muncul pemikiran seperti itu? Bahwa kematian seolah masih jauh, atau malah tidak akan pernah datang kepada manusia? Penyebabnya adalah karena terbelenggunya hati dan akal manusia oleh hawa nafsu. Demikian bergejolaknya hawa nafsu dalam dada seseorang, sehingga akal sehatnya tidak berjalan bahwa umur manusia ada batasnya. Dan semua kenikmatan tidak akan bakal dinikmati lagi saat nyawa terpisah dari raganya. Malaikat Jibril pernah mendatangi Rasulullah saw. dan berpesan:
يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّك مَجْزِيٌّ بِهِ ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْت فَإِنَّك مُفَارِقُهُ

“Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu tetapi engkau akan mati, berbuatlah sesukamu tetapi kamu akan mendapatkan balasan, dan cintailah siapa saja yang engkau cintai tetapi engkau akan berpisah darinya.”(HR. Thabrani).
Banyak petunjuk yang sebenarnya bisa menggugah hati dan akal kita untuk memikirkan yang satu ini. Setiap waktu Allah mengutus malaikat Izrail mencabut nyawa mahluk-mahluknya. Bahkan mungkin kita juga pernah berta’ziyah kepada mereka yang meninggal dan mengantarkan mereka ke liang lahad. Andai saja kita mau berpikir lebih mendalam, seharusnya itu menggetarkan hati kita akan dahsyatnya kematian. Rasulullah saw. bersabda:
لَوْ تَعْلَمُ اَلْبَهَائِمُ مِنْ الْمَوْتِ مَا تَعْلَمُونَ مَا أَكَلْتُمْ مِنْهَا سَمِيْنًا
“Andaikata hewan mengetahui kematian sebagaimana Bani Adam mengetahui (akibat) kematian, maka niscaya kalian tidak akan menemukan lemak dalam tubuhnya.”(HR. Bayhaqi dalam al-Sha’ab)

Di sinilah urgen-nya melakukan zikrul mawt, mengingat kematian. Dengan mengingat mati seseorang akan membatasi dirinya dengan hukum-hukum syara’. Ia akan berusaha mengendalikan hawa nafsunya agar tidak menyeretnya ke dalam siksa Allah SWT. Orang-orang yang mengingat kematian adalah orang-orang yang mulia. Ibnu Umar meriwayatkan bahwa seorang Anshar bertanya kepada Nabi saw. tentang orang yang paling cerdas dan mulia. Nabi saw. menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
“Mereka yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak mempersiapkan kematian. Merekalah orang yang paling cerdas. Mereka akan pergi dengan mendapatkan kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.”(HR. Ibnu Majah).

Yang dimaksud mempersiapkan kematian di sini bukanlah sekedar menyiapkan kapling tanah untuk kuburan dan upacara kematian yang megah, tapi mempersiapkan amal soleh sebanyak-banyaknya. Serta senantiasa hati diliputi perasaan takut dan penuh harap. Takut bila mengingat beratnya hisab dari Allah dan kerasnya siksa bagi siapa saja yang mengabaikan ketaatan padaNya. Tapi juga penuh harap bahwa Allah akan berkenan menerima seluruh amal soleh yang kita kerjakan serta memberikan ampunan atas segala kesalahan.

Kematian adalah sesuatu yang harus dipersiapkan setiap saat. Karena ia bisa datang kapanpun, di manapun, dan kepada siapapun. Kematian juga tidak pandang apakah kita siap atau tidak menghadapinya. Ketika ia datang tak ada kesempatan untuk meminta penangguhan. Yang akan ada tinggallah penyesalan sebagaimana dikabarkan Allah Ta’ala kepada kita. FirmanNya:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"”(QS. al-Munafiqun: 10).

Hidup ini hanya sekali dan akan berakhir tanpa kita ketahui kapan akan tiba. Maka sungguh merugi orang yang tidak memanfaatkan kesempatan emas di saat hidupnya untuk menjadi muslim yang terbaik. Mencurahkan hidup untuk mendapatkan ridlo Allah seluas-luasnya, dan menggunakan dunia sekedar sarana kehidupan bukan tujuan.

Betapa banyak orang  yang Allah beri umur yang panjang, menyaksikan banyak kematian tapi tidak menjadikannya sebagai pelajaran berharga untuk kian taat kepada Allah SWT. inilah sebenarnya orang yang merugi.š
Baca Selengkapnya »»  

Kamis, 09 Agustus 2012

Akibat Perbuatan Dosa


لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.”(QS. ali Imran: 188)
Bagi seorang muslim, ukuran baik dan buruk dalam perbuatan bukanlah ditentukan oleh dirinya sendiri atau suara mayoritas ataupun kebiasaan. Tetapi semuanya adalah wewenang Allah SWT. Mana yang boleh dikerjakan dan yang tidak diatur berdasarkan aturan Allah SWT. Apa yang dilarangNya maka itulah yang dikategorikan perbuatan buruk, atau tindakan kriminal.
 Di antara tanda kekuasaan Allah adalah Ia memberitahukan pada manusia beragam dampak dari perbuatan dosa atau kejahatan yang dikerjakan umat manusia. Peringatan dari Allah adalah karena sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang ada padaNya. Allah menginginkan manusia tetap berada di jalanNya, agar selamat dalam menempuh kehidupan di dunia maupun di akhirat.
Perbuatan kriminal sendiri dalam Islam terbagi menjadi dua macam; mengabaikan perkara yang telah diwajibkan Allah SWT. dan mengerjakan yang diharamkanNya. Meninggalkan kewajiban semisal sholat 5 waktu, puasa Ramadlan, muslimah yang enggan menutup aurat, adalah sebagian dari perbuatan keji. Demikian pula mengerjakan yang telah diharamkan Allah seperti berjudi, berzina, minum khamr, melakukan riba, bersekutu dengan musuh-musuh Allah, juga termasuk perbuatan kejahatan. Pantang bagi seorang muslim meninggalkan perintah Allah maupun mengerjakan yang telah diharamkanNya.
Di antara dampak perbuatan dosa yang dikerjakan oleh umat manusia adalah sebagai berikut;
Tertutupnya hati manusia dari petunjuk dan peringatan Allah SWT.
            Rasulullah saw. menerangkan bahwa tatkala manusia mengerjakan perbuatan keji, maka hatinya akan ternoda. Dan bila tidak segera bertobat, kembali pada jalanNya maka seluruh hatinya akan tertutup.
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ )

”Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa akan ada di dalam hatinya noda hitam. Seandainya ia bertaubat, meninggalkanya dan memohon ampunan maka akan hilanglah noda hitamnya. Apabila ia menambah (dosa) niscaya akan bertambah, sehingga akan menutup hatinya yang disebutkan oleh Allah, ‘Sekali-kali tidak! Akan tetapi itu adalah noda pada hati mereka karena apa yang mereka kerjakan’ (QS. al-Muthaffifin: 14).”(HR. Turmudzi).
            Pada bagian ini ada baiknya kita merenung, apakah hati kita masih terbuka menerima petunjuk dan peringatan Allah, ataukah tidak? Bila masih ada perasaan berat apalagi menolak sesuatu yang telah jelas merupakan hukum Allah, pantaslah kita beristighfar, memohon ampunan kepada Allah, agar Ia berkenan memberikan petunjukNya kepada kita.

Terhalangnya Rizki
            Nabi saw. bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
“Sesungguhnya seseorang terhalang rizkinya karena dosa yang dikerjakannya.”(hr. Ahmad, Nasa’iy, Ibnu Majah).
            Allah adalah ar-Razaq, Maha Pemberi Rizki, akan tetapi Ia pun memiliki sifat al-Qabidh yang bermakna Yang Maha Menahan. Menurut ar-Raghib al-Isfahani, “Arti dari al-Qabidh adalah yang sekali waktu mencabut rezki, sekali waktu memberikannya, atau yang mencabut rizki dari suatu kaum kemudian memberikannya kepada kaum yang lain.” Hal ini sesuai dengan firman Allah:

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ
“Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).”(QS. ar-Ra’du [13]: 26).

Merebaknya kerusakan
            Allah Ta’ala berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”(QS. ar-Rum: 41).

            Imam ath-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat di atas; “Allah merusakkan mereka akibat perbuatan dosa-dosa mereka, di lautan dan di daratan akibat perbuatan mereka yang keji.”
            Mahakuasa Allah SWT. tidak ada  yang sanggup menahan kekuasaan dan kehendakNya. Maka apakah pantas bagi muslim melanggar perintahnya, dan berbuat dosa. Padahal sudah sedemikian keras peringatan yang Allah sampaikan?
            Saatnya kita kembali ke jalan Allah dan berharap mendapatkan ampunan atas segala kesalahan, dan diberikan kekuatan untuk istiqomah di jalanNya.
           
Baca Selengkapnya »»  

Selasa, 07 Agustus 2012

Petuah Imam Al-Ghazali


Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya


Imam Ghazali : "Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 : "Orang tua"
Murid 2 : "Guru"
Murid 3 : "Teman"
Murid 4 : "Kaum kerabat"
Imam Ghazali : "Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).


Imam Ghazali : "Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?"
Murid 1 : "Negeri Cina"
Murid 2 : "Bulan"
Murid 3 : "Matahari"
Murid 4 : "Bintang-bintang"
Iman Ghazali "Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimana pun kita, apa pun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama".


Iman Ghazali : "Apa yang paling besar di dunia ini?"
Murid 1 : "Gunung"
Murid 2 : "Matahari"
Murid 3 : "Bumi"
Imam Ghazali : "Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A'raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka."


IMAM GHAZALI : "Apa yang paling berat di dunia?"
Murid 1 : "Baja"
Murid 2 : "Besi"
Murid 3 : "Gajah"
Imam Ghazali : "Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah."


Imam Ghazali : "Apa yang paling ringan di dunia ini?"
Murid 1 : "Kapas"
Murid 2 : "Angin"
Murid 3 : "Debu"
Murid 4 : "Daun-daun"
Imam Ghazali : "Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat "


Imam Ghazali : "Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? "
Murid- Murid dengan serentak menjawab : "Pedang"
Imam Ghazali : "Itu benar, tapi yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri "
Baca Selengkapnya »»  

Jangan Menjadi Gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.


Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah tersebut,Amin
Baca Selengkapnya »»  

Senin, 06 Agustus 2012

Wahai Anakku,.. Bertakwalah Kepada Allah!


Wahai anakku...
Sesungguhnya Rabmu mengetahui apa yang kamu betikkan dalam hatimu, dan Dia mengetahui apa yang engkau ucapkan dengan lisanmu, dan Dia melihat terhadap segala amalanmu, maka bertakwalah kamu kepada Allah wahai anakku, dan berhati-hatilah kamu terhadap pengawasan-Nya pada saat kamu dalam keadaan yang tidak diridhai oleh-Nya.

Hati-hatilah kamu dari kemurkaan Rabbmu, yang mana Dialah yang telah menciptakanmu dan memberikan rizki kepadamu serta yang telah mengaruniai kamu akal yang dapat kamu gunakan di dalam kehidupanmu. Bagaimana perasaanmu ketika bapakmu melihat dirimu dalam keadaan melanggar perintahnya? Apakah kamu tidak khawatir nantinya bapakmu akan menghukummu? Maka jadikanlah perasaanmu sama seperti itu [bahkan lebih] kepada Allah, karena Dia dapat melihat dirimu disetiap kesempatan yang kamu tidak dapat melihat Dia! Maka janganlah kamu anggap enteng pada perkara apapun juga yang kamu telah dilarang darinya!

Wahai anakku..
Sesungguhnya Rabmu sangat dahsyat murka-Nya, siksa-Nya teramat pedih, maka hati-hatilah kamu wahai anakku, dan takutlah kamu terhadap kemurkaan-Nya, dan janganlah kamu terlena oleh kasih sayang Rabbmu dan sesungguhnya Allah menangguhkan (siksa-Nya) bagi orang yang berbuat dzalim, sampai-sampai jika Dia menyiksa orang tersebut, niscaya Dia tidak akan melepaskannya.

Wahai anakku...
Sesunguhnya di dalam ketaatan kepada Allah ada kelezatan dan kebahagiaan yang tidak akan dapat dirasakan kecuali dengan mencobanya.

Maka, wahai anakku...
Pergunakanlah ketaatan kepada Allah sebagai bahan ujian pada setiap harinya supaya engkau dapat merasakan kelezatan, dan supaya engkau dapat merasakan kebahagiaan ini, niscaya kamu dapat mengetahui keikhlasan dirku di dalam menasehatimu.

Wahai anakku..
Sesungguhnya engkau akan mendapati rasa berat hati di dalam ketaatan kepada Allah pada pertama kalinya, maka pikullah beban berat ini, dan bersabarlah padanya, sampai ketaatan tersebut engkau rasakan menjadi rutinitas yang dapat dijinakkan.

Wahai anakku...
Lihatlah kepada dirimu ketika dulu kamu berada di bangku (sekolah); kamu belajar membaca dan menulis, dan kamu diperintahkan supaya menghafal Al-Qur'anul Karim dengan mendiktekannya, bukankah kamu dulu di sana benci terhadap bangku (sekolah) serta gurunya, dan kamu berangan-angan supaya cepat berakhir? Nah, pada hari ini kamu telah mencapai kedudukan yang mana kamu dapat mengetahui faedah kesabaran dalam belajar di bangku (sekolah), dan engkau telah tahu bahwa pengajarmu dulu berusaha untuk kebaikan dirimu.

Maka, wahai anakku...
Dengarkanlah nasehatku, dan bersabarlah di atas ketaatan kepada Allah sebagaimana engkau sabar dalam belajar di bangku (sekolah), niscaya nanti engkau akan mengetahui faedah dari nasehat ini, serta akan tampak jelas bagimu apabila hidayah telah membantu untuk beramal dengan nasehat ustadzmu.

Wahai anakku...
Janganlah kamu sekali-kali beranggapan bahwa bertakwa kepada Allah adalah shalat, puasa, dan semisalnya dari berbagai ibadah (yang dhahir) saja. Bahwa sesungguhnya bertakwa kepada Allah mencakup segala sesuatu, maka bertakwalah kamu kepada Allah pada (hak-hak) saudara-saudaramu, janganlah kamu sakiti salah seorang dari mereka, dan bertakwalah kamu kepada Allah pada (hak-hak) negerimu: Janganlah kamu khianati dia dan jangan kamu biarkan musuh menguasainya, serta bertakwalah kamu pada (hak-hak) dirimu, janganlah kamu sia-siakan waktu sehatmu dan janganlah kamu berperilaku kecuali perilaku yang mulia.

Wahai anakku..
Rasulullah saw telah bersabda: "Bertakwalah kamu dimanapun kamu berada, dan iringilah kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya (kebaikan tersebut) akan menghapusnya, dan pergaulilah orang-orang dengan akhlak yang baik" [1]

(Diambil dari "Washaya al-Aba' Lil Abna", penulis: Syaikh Ahmad Syakir, edisi bahasa Indonesia:"Duhai anakku.. Dengarlah nasehatku!" Penerbit: Al-Haura)
-------------------------------
[1] HR Ahmad, Tirmidzi dan Al-Hakim dengan sanad yang hasan
Baca Selengkapnya »»  

Sahurnya Kita Dan Sahurnya Televisi Kita

Suasana sahur di bulan ramadhan beberapa tahun terakhir ini,kita sudah terbiasa dengan berbagai macam program acara di televisi,yang rata-rata merupakan program komedi,bagi stasion televisi hal tersebut sudah menjadi kaharusan setiap memasuki bulan ramadhan.

Kalau kita lihat kebelakang sekitar 10 tahun yang lalu,masih sangat jarang kita mendapati stasion televisi kita punya progaram khusus di bulan ramadhan.Masih banyak anak yang bermain setelah makan sahur,ada yang membaca al-Qur'an,yang sangat jauh dari televisi.Entah karena waktu itu memang belum banyak yang mempunyai televisi atau memang karena pola pikir mereka belum tercemar dengan yang namanya televisi.

Sekarang,banyak dari kita yang merasa rugi kika harus ketinggalan sebuah program tertentu dari salah satu stasion televisi favorit kita.Kita yang seharusnya jadi panutan bagi anak kita terkadang malah secara tidak sadar telah meracuni anak kita dengan kebiasaan kita menonton televisi.

Sekarang sudah menjadi ajang persaingan stasion televisi kita untuk menghadirkan program acara yang dapat menghibur para pemirsanya tanpa mempertimbangkan penting apa tidaknya program tersebut.

Memang dengan adanya program-program acara yang di hadirkan oleh stasion-stasion televisi tersebut memberikan warna tersendiri bagi para pemirsanya yang baru saja bangun untuk makan sahur jadi lebih bersemangat dengan guyonan ataupun lawakan para artis.

Tapi semua berpulang pada kita sendiri untuk menentukan palihan akan menonton program-program tersebut apa tidak,kita pasti akan memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anak kita.

Semoga Allah selalu memberikan bimbingan hidayah dan inayah-Nya pada kita semua agar kita selamat dunia dan akhirat Amin Ya Rabbal'alamin....!
Baca Selengkapnya »»  

Sabtu, 04 Agustus 2012

Nasihat Kepada Kedua OrangTua ( Ibu Dan Bapak )


Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti jalan dan petunjuknya sampai hari pembalasan.

Saudaraku, para bapak dan ibu.
Allah telah berfirman :
“Kalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru (mereka) kepada yang ma’ruf dan mencegah (mereka) dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali-Imran : 110).

Dari Abu Ruqayah Tamim bin Aus Ad-Dari r.a. bahwa Nabi r bersabda :
“Agama itu adalah nasehat. “Kami bertanya : “untuk siapa? “Beliau menjawab: “untuk Allah, kitabNya, RasulNya, para imam orang-orang Islam, dan untuk orang-orang awam mereka.” (riwayat muslim).

Dari sinar cahaya inilah, saya menulis untuk para orang tua (ibu dan bapak) nasehat ini, dari seorang saudara yang mencintai mereka seperti kecintaannya kepada dirinya sendiri. Saya memohon kepada Allah agar nasehat ini akan mendatangkan manfaat. Sesungguhnya Allah Maha dekat, Maha mengabulkan dan mendengar do’a.

Saudara-saudaraku, para ibu dan bapak. Panjatkanlah puji dan syukur kepada Allah atas ni’mat anak yang telah diberikan oleh Allah. Ketahuilah, bahwa anak merupakan suatu amanah yang agung dan tanggung jawab yang berat di hadapan Allah. Adakah ibu bapak telah memelihara amanat-amanat tersebut?
Allah berfirman tentang sifat-sifat para hambaNya yang beriman :
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya,” (Al-Mu’minun: 8).

Adakah kuncup-kuncup yang beriman, putera-puteri bapak ibu, telah bapak ibu didik sehingga berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an ?.
Adakah mereka telah bapak ibu didik untuk mengikuti sunnah Rasulullah r ?
Allah swt. berfirman :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-ahzab: 21)
Adakah mereka telah Bapak ibu didik untuk mengesakan Allah I. dan menjaga fitrah mereka dari noda-noda syirik dan dosa?
Allah I. berfirman :
“Dan (ingatlah) ketika Luqman kerkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya ; ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar suatu kezaliman yang besar.” (Luqmam:31).

Adakah mereka telah Bapak ibu didik untuk bertaqwa dan selalu memperhatikah Allah, baik mereka dalam keadaan sembunyi atau terang-terangan?

Adakah mereka telah Bapak ibu ajarkan rukun iman, rukun Islam, dan ihsan, sehingga mereka menjadi teladan dan contoh hidup untuk seorang muslim dan muslimah?

Adakah mereka  telah Bapak ibu ajarkan shalat, dan bapak ibu perintahkan mengerjakannya pada  umur tujuh tahun, dan bapak ibu pukul pada umur kesepuluh (jika tidak mengerjakannya) serta memisahkan tempat tidur mereka ?

Sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah r dari Amru bin Syuaib dari bapaknya dari neneknya berkata  : Rasulullah r bersabda : “Perintahlah anak-anakmu shalat pada umur tujuh tahun, dan pukul mereka (jika tidak mengerjakannya) pada umur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (riwayat Abu Daud dengan sanad hasan).

Adakah mereka telah Bapak ibu asuh dengan adab dan sopan santun Islam, seperti: berbakti kepada orang tua, silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga, menghormati tamu, berbuat baik pada fakir miskin, jujur, amanah, adil, mempunyai rasa malu, memjaga lisan dan pendengaran serta penglihatannya, memberi nasehat kepada setiap muslim, menyeru (manusia) kepada yang baik  dan mencegah dari kemungkaran, mendahulukan orang lain, randah hati, memenuhi janji, dan lain-lain yang termasuk akhlak yang baik dan mulia?

Adakah mereka telah Bapak ibu cegah dari akhlak yang tidak baik, seperti : berbuat aniaya (zhalim) kepada orang lain, sombong, ghibah, mengadu domba, bohong, bersaksi bohong, hasud, dengki, memata-matai orang lain, menghina orang Islam, menipu, curang dan khianat ?

Adakah mereka telah Bapak ibu tunjukkan kepada teman-teman yang baik, dan bapak ibu menjauhkan mereka dari teman-teman yang tidak baik?

Adakah bapak ibu telah mendidik para puteri sejak kecil untuk mempunyai rasa malu, menutup badan dan terbiasa memakai hijab syar’i secara sempurna, terutama wajah mereka, dan menjauhkan diri dari pergaulan kaum lelaki?

Adakah ibu bapak telah menjadi contoh yang baik dalam hal ini? Adakah mereka telah bapak ibu didik untuk bertanggung jawab sejak kecil? Adakah? Adakah? Adakah?

Saudaraku para bapak dan ibu.
Hendaknya masing-masing menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara jujur, kerena tanggung jawab dan amanat ini sangat besar dan berat.
Allah I berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah maalikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-tahrim: 6).

Saudara-saudaraku para bapak dan ibu.
Perkenankanlah saya untuk berbicara tentang suatu hal penting yang kadang-kadang kedua orang tua meninggalkannya atau tidak tahu kepentingannya, yaitu upaya mengawinkan putera-puteri pada umur lebih muda.

Dalam hadits dari Nabi r bersabda :
“Wahai seluruh kaum remaja, barangsiapa diantara kamu telah mempunyai kemampuan maka kawinlah, karena hal itu lebih membantu menahan pandangan mata dan menjaga kelamin. Dan barang siapa belum mampu, hendaknya berpuasa, karena itu merupakan obat baginya.” (muttafaq alaih).

Perkawinan akan menjaga dan memelihara kedua suami isteri di samping akibat-akibat positif lainnya. Para setan penganjur kerusakan dari golongan jin dan manusia mengerti dengan persis, bahwa perkawinan akan menjaga individu dan masarakat dari jalan-jalan kerusakan dan kejahatan, maka mereka memperhatikan sungguh-sungguh untuk menghalangi upaya perkawinan putera-puteri bapak ibu dengan alasan-alasan yang melenakan sambil memanfaatkan kelengahan orang tua mereka terhadap bahaya masalah ini.

Bapak ibu –semoga Allah memelihara anda- hendaknya kalian mengawinkan putera-puteri bapak pada umur lebih muda. Bersungguh-sungguh mencarikan isteri yang shalehah untuk putera bapak ibu, begitu juga mencarikan suami yang shaleh untuk puteri bapak ibu, karena mereka merupakan amanat yang besar, maka penuhilah hak memelihara mereka.

Kepada ummat Islam yang lain, hendaknya ikut bekerjasama  dalam meringankan beban biaya perkawinan. Para ulama hendaknya menganjurkan ummat Islam untuk itu. Dalam hal ini kita mempunyai suri  teladan yang baik dari Rasulullah r.

Umar bin Khattab berkata :
“Janganlah kalian memahalkan mahar kaum wanita, karena andaikata merupakan pemberian di dunia dan ketakwaan di akhirat maka hal itu lebih diutamakan oleh Rasulullah r. Nabi r tidak pernah memberi mahar pada siapapun diantara para isteri beliau, dan tidak juga seorangpun diantara puteri-puteri beliau yang menerima mahar lebih dari dua belas uqiyah, dan satu uqiyah sama dengan empat puluh dirham.”

Saya memohon kepada Allah, agar menjaga puteri-puteri ummat Islam dengan penjagaanNya dari segala kejahatan dan ketidak baikan, menumbuhkan mereka menjadi tumbuhan yang baik, dan memberi taufiq kepada bapak ibu untuk mendidik mereka dan memenuhi amanat yang berat ini. Sesungguhnya Robbku Maha dekat, Maha mengabulkan dan Maha mendengar do’a.
Baca Selengkapnya »»  

Jumat, 03 Agustus 2012

Nasehat Kepada Puteri Muslimah

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti jejak dan petunjuk beliau sampai hari pembalasan.

Kepada kuncup-kuncup mekar yang beriman, yang terdidik untuk mempunyai rasa malu, kusampaikan ayat-ayat Al-Qur’an berikut. Karena pembicaraan yang paling baik adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan petunjuk yang paling baik adalah patunjuk Rasulullah r.
Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya ; ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar suatu kezaliman yang besar.” Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKulah kambalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (mambalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (Luqman 13-19).

Semoga Allah menumbuhkan anda menjadi tanaman dan tumbuhan yang baik, menjaga anda dan kedua orang tua anda dengan penjagaanNya. Sesungguhnya Allah Maha dekat, Maha mengabulkan, dan Maha mendengarkan do’a.
Baca Selengkapnya »»  
 
back to top